Sebagai seorang pemegang aliran sehat, selain pantangan *yah setidaknya berusaha menghilangkan* MSG, gula refinasi, pemanis buatan dan TransFat, makanan sehat juga perlu. Salah satunya adalah Yoghurt.

Pertama kali bersentuhan dengan yoghurt kalau tidak salah masih SD, waktu itu yoghurt termasuk benda asing, langka dan bahkan mewah. Waktu coba, waaahhh asem benerrr. Waktu itu diberikan oleh saudara, botol plastik berukuran 1 liter berwarna putih dengan label bergambar kambing. Sudah lupa apa mereknya. Sepertinya itu yoghurt susu kambing yang biasa dikenal dengan kefir.

Ketika dewasa juga yoghurt termasuk makanan *atau minuman* favorit karena rasa yang asem-asem segar dan teksturnya lembut. Terlebih lagi ternyata yoghurt itu termasuk makanan sehat. Hanya saja sering terbentur dengan masalah moneter :) ). Soalnya memang hargannya diatas harga susu segar. Yah susu segar saja sudah mahal.

Awalnya masih nga “ngeh”, koq yoghurt sehat ? Tentu ini dilihat jika dibandingkan dengan susu. Apakah karena asamnya? Apakah karena kandungannya seperti tempe yang hasil fermentasi yang lebih bergizi ? Ternyata tidak seperti itu. Yoghurt itu bisa berubah dari susu berkat jasa bakteri, yang stereotipe-nya jelek dan buruk. Bakteri tersebut bukan bakteri biasa, tetapi bakteri yang memang menguntungkan bagi pencernaan kita. Bakteri-bakteri tersebut bisa menekan bakteri “jahat” yang ada di pencernaan kita yang biasa masuk lewat jalur makanan yang kurang bersih. Bakteri menguntungkan juga mensintesis vitamin di usus besar.

Terdengar sepele, tapi masalah pencernaan itu terkait dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Ketika terjadi sembelit, sampah tubuh akan membusuk didalam dan menghasilkan racun. Racun itu bisa terserap lagi kedalam tubuh dan mengganggu kesehatan secara keseluruhan.

Mengapa rasa yoghurt itu asam ? Bakteri-bakteri menguntungkan yang dikembang-biakan pada susu yang akan dijadikan yoghurt tersebut akan “mencerna” sejenis gula yang berada pada susu yang bernama “laktosa”. Hasilnya adalah Lactic Acid atau asam laktat, karena itu rasanya asam. Beberapa orang memang ada yang alergi terhadap susu sapi (tepatnya alergi laktosa), nah untuk orang yang alergi, yoghurt biasanya lebih bersahabat bagi pencernaannya karena kadar lactosa-nya sudah berubah menjadi asam laktat. Tapi harus dicoba juga, ini sangat tergantung kemampuan orang untuk mengolah lactosa di pencernaannya.

Nah, point penting disini adalah bakterinya. Yang kita inginkan adalah memasukkan bakteri sehat kedalam pencernaan untuk menekan bakteri yang merugikan. Setelah mengetahui ini, ketika kita akan membeli, perlu lebih teliti karena tidak semua produk yoghurt itu masih memiliki kandungan bakterinya. Sering kali yoghurt-yoghurt itu sebelum di kemas, di panaskan dahulu untuk membunuh semua bakteri yang ada.

Akibatnya, manfaat utama dari yoghurt itu jadi tidak ada lagi. Yang ada hanya makanan/minuman enak dan bergizi (seperti susu). Biasanya produk yang memiliki bakteri hidup, umur di toko itu tidak bisa lama dan harus diletakkan di dalam pendingin.

Selain alternatif dari yoghurt juga ada beberapa produk yang mengandung bakteri probiotik hidup juga yang beredar dipasaran yang berupa minuman berbotol kecil. Tapi kalau kita intip kedalam kandungannya, kandungan gula perbotolnya itu bisa lebih banyak daripada sebuah yoghurt yang ukurannya lebih besar. Yah, gali lobang, tutup lobang deh. Dapat sehat probiotik tetapi meningkatkan asupan gula.

Berikutnya, yoghurt juga biasa muncul dalam bentuk yoghurt drink yang lebih encer dan biasanya berharga lebih mahal dan rasion perbandingan yoghurt dengan gula-nya lebih rendah dibanding yoghurt biasa. Menurut saya value-per-price atau perbandingan nilai dengan harganya lebih rendah jika dilihat dari sudut manfaat.

Jika anda ingin mencari snack sehat, yoghurt patut dipertimbangkan. Tapi dengan catatan yoghurt itu harus mengandung bakteri hidup dan kandungan gulanya tidak berlebih.

5 Comments

    • Surti
    • Posted 21 May 2008 at 12:57 am
    • Permalink

    Ben, ada yoghurt homemade gitu di BSD, enak, tp gue lupa namanya apa, tempatnya di belakang kantor pos sektor 14 *sebrang St. Ursula*, tanya aja, pasti pada tau :D

  1. Kalo g sih bikin sendiri juga sur, kalo beli biasanya buanyak bener gulanya :D

    • Surti
    • Posted 21 May 2008 at 7:25 am
    • Permalink

    wah, hebat, dari plain yoghurt atau bener2 dari scrath?

  2. masih dari susu lah. kalo nga mah artinya nge-campur yoghurt doang. :D

    Niat sih bikin blog tentang cara membuat yoghurtnya, cuma belon kesampean aja nih.

    • Surti
    • Posted 22 May 2008 at 7:03 am
    • Permalink

    secara lo blg gulanya banyak, jd gue berpikir dari plain yoghurt dong :P ..anyway, salah ketik ya diatas, maksudnya scratch


Post a Comment

*
*